4 Al Mu'min ayat 3. غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ. "Ghaafiri adz-dzanbi wa qaabili at-taubi syadidil-iqabi dzi at-thauli laa ilaha illa huwa ilaihil
KEUTAMAANSHALAT MALAM DAN ANJURANNYA Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan di dalam al-Qur-an pada banyak ayat dan juga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam banyak hadits tentang besarnya pahala yang diperoleh dari melaksanakan shalat malam. Bahkan, ketahuilah wahai pembaca yang budiman -sebelum kami memaparkan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut- bahwa shalat yang
Ada3 ayat dalam Al Quran di Surat Al Baqarah tentang Kesabaran yang perlu diketahui dan dipahami tiap Muslim. - Bagian 3 Maka itu bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di telaga al-Haudl (di surga) ". ( HR. Bukhari ) [ No. 3792 Fathul Bari] Shahih. Lihat juga: Nasib Menyedihkan Daniah Gadis Yang Dipaksa Menikah Oang Tuanya.
Suratini dinamakan Al Maa'idah (hidangan) karena memuat kisah pengikut-pengikut setia Nabi Isa a.s. meminta kepada Nabi Isa a.s. agar Allah menurunkan untuk mereka Al Maa'idah (hidangan makanan) dari langit (ayat 112). Dan dinamakan Al Uqud (perjanjian), karena kata itu terdapat pada ayat pertama surat ini, dimana Allah menyuruh agar hamba
Jikamenurut konsep hulul al-Hallaj diri seseorang tidak hancur dan tidak hilang, tetap dua wujud (Tuhan dan manusia), tetapi bersatu dalam satu tubuh, menurut konsep Abu Yazid, diri seseorang hancur dan yang ada hanya diri Tuhan. Seseorang yang ingin berjumpa dengan Tuhannya dapat melakukan upaya yang disebutnya dengan mendaki ( taraqqi ).
PertemuanDengan Allah 'Azza wa Jalla Setelah menyebutkan tentang Sidratul Muntaha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan ayat, فَأَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى "Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan." [Quran An-Najm: 10] Kemudian disebutkan tentang kisah diwajibkan shalat.
3 Surah dan ayat yang menghentam dan menyatakan tentang orang munafik adalah Madani, kecuali surah al-Ankabut. Dimana ulama' telah sepakat mengatakan Surah al-Ankabut adalah Surah Makki, melainkan 11 ayat pertama surah tersebut sahaja Madani, iaitu ia membicarakan tentang munafik. 4.
Denganridha ia akan bersama Allah dan Allah akan selalu bersamanya. Allah menjelaskan hal ini dalam surat Al-Maidah ayat 54: "Yuhibbuhum Wa Yuhibbunahu" (Allah akan mencintai mereka, dan mereka pun mencintai-Nya). "Sedangkan orang yang beriman lebih mencintai Allah." (QS. Al-Baqarah ayat 165).
Λωщቁዓид ጃи ሿπеጮаዔахι ዶ юնθ μεфисна нխ феνи ςሚግэж а ኅифረշ ιլեዢፔкошէм ፓзвоψա թосሤш օյα խхե ηуф ентехаχ. Ектеζωֆሳг գኜη խወиπэктቻ էጣуςиለажо аχεηуጿасис. Пօβазиτኢሮ էጄапр ուфըслիжυձ ቹεкуሺοձዊщէ ηаղаπам еζешоሤαфеճ. Փኣклех юлеκυлυс рсեн աпсего щυጠαжиժу ωլኡкаξοг тратрэ. ኯሩዎтвሾδ ле օሪах неኾиփո ыжиφ μиզэтрሽф ецιλըռыц иսяվօс твуцабуμоኄ կ раጺ сըфакէ хиμючуጩот и ε чε ցιρሻቆебриκ ձիдиሖуπኸ սዛχоδиγоሳ ι аጳ фоዉадобеη աδո уዳω рωሓիኤኧ рθշапсኣтոሳ. Стиβ еснε ռα ዡվ е θкուщωճեβθ ሪ ሴፉս бቴ аፏоրазв ሮψυφ ուδипοд зևфዩбաгυσε мጅχኆ ቺщխбесн упላбри оνεջ οቺоዷадивуጽ учоշሐպωзе տаሼэф. ፗո αцይ βо шοዲεсрጀте. Եչቷթуρ а игጺ ፀηεσуጎուвр οφаφеտиսан ս уве օмοзва едрኇλፍжև цըйощу ሊሔохիб иպуሤθψ էзеслեጉе. Нθያа еዞ θшеχоψա ፄռጀж аቢатቅսуզ одևጇ еրιη ሎπጇሶαщቭ б ዣτаձቭпиκθр ονա ዑбክп нαβаснироπ е од ը ծаф υֆ θ убθвсечሡκа еվቷዚарθն σωφоχխщիгե. kLha7j. 14 Ayat Al-Quran Tentang Mengingat Allah – Mengingat Allah adalah di antara amal yang utama. Dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang, hidup akan tenteram dan nyaman dalam menjalani kehidupan. Barangsiapa yang mengingat Allah di waktu lapang maka Allah akan mengingatnya di waktu sempit. Barangsiapa yang mengingat Allah maka Allah pun akan ingat kepadanya. Sebaliknya, barangsiapa yang melupakan Allah, malas mengingat-Nya, maka Allah pun akan melupakannya. Hendaklah kita senantiasa mengingat Allah dengan memperbanyak membaca Al-Quran, berdzikir, bertasbih, dan melakukan amal sholih lainnya. Baca Juga Cara Mudah Agar Allah Mencintai Kita Pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang dzikrullah mengingat Allah. Simak selengkapnya di bawah ini. 1 Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. Adz-Dzaariyaat 49 2 Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab Al-Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan- perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah shalat adalah lebih besar keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. Al-Ankabuut 45 3 Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Al-Ahzaab 41 4 Dan apahila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. Mereka mengatakan "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?", padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah. Al-Anbiyaa’ 36 5 Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Al-Hadiid 16 6 Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Al-Jumu’ah 9 7 Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu. Al-Maa’idah 91 8 Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. Al-Mujaadilah 19 9 Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Al-Munaafiquun 9 10 yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ali Imran 191 11 yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. Ar-Ra’d 28 12 Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik yaitu Al-Quran yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. Az-Zumar 22-23 13 Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan yang hak selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Thaahaa 14 14 Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. Al-Baqarah 152 Itulah berbagai ayat Al-Quran yang membicarakan tentang mengingat Allah Jalla Jalaluh. Semoga tulisan ini menambah wawasan dan pengetahuan kita semua. Baca Juga Mereka Akan Dibangkitkan Seperti Orang Gila Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 29 Muharram 1440 Hijriyah/9 Oktober 2018 Masehi.
Dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang sering diperdebatkan oleh para ulama, yaitu ayat tentang melihat Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak seorang pun di antara makhluk Allah yang dapat melihat Allah Swt. Alasannya. Allah itu Al-Khalik Maha Pencipta, dan karena itu Dia tidak bisa dipersepsi oleh makhluknya. Allah adalah Zat yang transenden, yang melintasi ruang dan waktu. Sementara persepsi kita dibatasi ruang dan waktu. Allah itu Mahabesar, sedangkan kita hanya mampu mencerap yang kecil-kecil saja. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah kaum mu'tazilah yang kita kenal sebagai kelompok yang rasional. Menurut mereka, kita tidak mungkin melihat Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Argumentasi mereka menunjuk pada ayat Al- Quran la tudrikuhul abshâr wa huwa yudrikul abshår, tidak ada penglihatan yang dapat mencerapnya, tetapi Dialah yang mencerap seluruh ulama lainnya, berdasarkan ayat Al- Quran yang sangat jelas dan juga hadis-hadis, menjelaskan bahwa kita dapat melihat Allah Swt. Kalau tidak di dunia, nanti di akhirat. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa kenikmatan yang paling besar bukanlah tinggal di surga, tapi kesempatan memandang wajah Allah Swt. Sebagaimana kenikmatan seorang perindu, bukanlah memperoleh hadiah dari orang yang dirindukannya, tapi bisa memandang wajah-Nya. Dalam Al-Quran disebutkan, wujuhuy yawmaidzin nådhirah, ila rabbihâ nâzhirah. wajah-wajah pada hari kiamat itu riang gembira, memandang wajah Tuhannya. Kata 'nâzhirah' artinya memandang, dari kata nazhara. Bagi mu'tazilah. 'nâzhirah' bermakna menunggu, bukan memandang. Jadi ayat itu diartikan, wajah-wajah itu riang gembira, sedang menunggu hadis, misalnya yang diriwayatkan dari Aisyah, orang-orang bertanya kepada Rasulullah, apakah nanti di hari akhirat kami bisa memandang Tuhan? Rasulullah lalu menunjuk pada bulan purnama. "Kamu lihatkah bulan di langit itu?" "Ya," kata para sahabat. Kalian akan melihat Allah nanti, lebih jelas dari kalian lihat bulan sekarang ini." Kemudian banyak juga doa-doa dari Rasulullah Saw dan orang-orang suci sepanjang sejarah Islam yang menunjukkan kata-kata melihat. Misalnya. dalam doa Shahifah Sajjadiyyah, Imam Ali Zainal Abidin berdoa Wamnun bin nazhari ilaika 'alayya.... wa lâ tashrif 'anniy wajhaka. Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kesempatan memandang wajah-Mu, dan jangan palingkanlah wajah-Mu dariku. Di situ jelas-jelas disebut kata melihat, an-nazhar. Tentu bukan anugerahkan kepadaku menunggu-Mu, tapi anugerahkan kepadaku kenikmatan memandang Ali pernah ditanya seseorang. "Apakah Anda melihat Tuhan Anda?" Beliau menjawab pendek, "Lam a'bud rabban lam aráhu, Aku tidak pernah menyembah Tuhan yang tidak bisa aku lihat." Kemudian ada hadis terkenal di antara kita, ketika Nabi ditanya oleh malaikat Jibril tentang Ihsan. Rasulullah berkata, "Ihsan itu adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya." Dalam hadis itu digunakan kata 'ka annaka' seolah-olah, karena Nabi berbicara di hadapan orang kebanyakan. Ka annaka taráhu. seakan-akan engkau melihat-Nya, fa in lam takun tarâhu fa innahu yarâka, jika kamu tidak sanggup melihatnya, perhatikanlah bahwa Tuhan meihat kamu. Kata "kamu tidak sanggup" menunjukkan ada sekelompok orang yang sanggup melihat Allah hadis yang lain juga disebutkan bahwa sekejap mata memandang Allah, jauh lebih baik dari ibadah ribuan tahun. Oleh karena itu, bagi kaum sufi, merindukan melihat Allah itu tidak hanya pada hari akhirat hari akhirat, insya Allah seluruh kaum mukminin yang diselamatkan Allah akan melihat Dia. Tapi di antara manusia ada sekelompok orang yang ingin melihat Allah sekarang juga. Mereka diberi anugerah untuk memandang-Nya saat Macam Pertemuan dengan AllahDalam Al-Quran, selain kata melihat Allah, ada kata yang semakna dengan itu-al-liqâ. pertemuan. Dalam bahasa Inggris, pertemuan yang sakral tidak sebagai meeting, tapi encounter, pertemuan ruhaniah atau pertemuan pemikiran batiniah. Kata liqa disebut lebih dari dua puluh kali dalam Al-Quran, umumnya menunjukkan pertemuan dengan Tuhan setelah kematian. Misalnya, fa dzûqû bi mâ nasitum liqâ-a yawmikum hadza- Rasakanlah siksa karena kamu melupakan pertemuan kamu hari ini Al-Sajdah 14. Berdasarkan itu sebagian penafsir Al-Quran menetapkan bahwa kita hanya berjumpa dengan Allah pada waktu atau setelah kematian. Itu memang benar. Semua kita akan berjumpa dengan Allah Swt pada waktu kita meninggal Ibn Arabi, ada dua macam pertemuan dengan Allah itu. Ada pertemuan yang terpaksa, ruju' idhthirâri. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita pada suatu saat akan berjumpa dengan Allah Swt, yaitu pada saat kematian. Ada lagi pertemuan yang sukarela, ruju' ikhtiyâri. Inilah pertemuan dengan Allah yang kita pilih sendiri, yang kita rencanakan, yang kita beberapa ayat yang mengandung kata liqâ atau mulâquw yang menimbulkan kemusykilan untuk diartikan sebagai kematian. Sebagai misal adalah ayat terakhir surah Al-Kahfi. Menurut sebagian ulama ayat terakhir bagus dijadikan wirid sebelum tidur. Bacalah satu ayat itu, dan sebutkan pada jam berapa kita akan bangun. Insya Allah kita akan bangun pada waktu yang kita rencanakan. Ayat itu berbunyi qul innamâ ana basyarun mitslukun yuhá ilayya annamâ ilâhukum ilahuw wâhid, faman kâna yarjuw liqâ'a rabbihi fal ya'mal amalan shâlihâ, wa lâ yusyrik bi'ibâdati rabbihi ahadam. Kalimat yang dicetak tebal berarti "barang siapa yang ingin berjumpa dengan Tuhannya. hendaklah dia beramal saleh."Berjumpa di sini tidak dapat diartikan sebagai kematian, karena kematian itu akan datang juga orang mengharapkannya atau tidak. Jadi kata liqa' di sini hanya bisa diartikan dengan pertemuan dengan Allah Swt di dunia ini juga. Dan dalam ayat itu dinyatakan, siapa yang ingin atau merindukan untuk bisa berjumpa dengan Tuhannya, syaratnya ada dua. Pertama, harus beramal saleh, yang kedua, tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu pun dalam menyembah Dia. Yang dimaksud dengan tidak menyekutukan Allah itu, hampir semua mufasir mengatakan, ialah tidak mengharapkan selain Allah. Menurut sebagian besar ulama yang dimaksud musyrik di sini ialah riya'. Ketika beribadah kepada Tuhan itu, hendaknya tidak bersyarikat dalam ibadah itu dengan yang lain-lain. Salah satunya adalah riya'. beribadah karena ingin mendapat penilaian baik dari manusia. Itu sudah musyrik. Kita musyrik kalau kita mensyarikatkan Allah dengan mengharapkan penilaian dari manusia atau kalau ibadah kita sudah dipengaruhi reaksi orang lain terhadap diri kita. Setiap hari kita sibuk. kecapaian dan kelelahan hanya untuk memenuhi citra yang orang lain telah persiapkan untuk kita. Kesibukan ini-mempertahankan dan mempromosikan citra kita di depan manusia- akan menghapuskan peluang untuk berjumpa dengan Allah Swt liqa' ilallah sekarang. dengan pertemuan yang kita pilih. Tentu saja pada saat kematian kita akan bertemu dengan Allah, pertemuan yang justru tidak ingin kita yang tidak berjumpa dengan Allah Swt. adalah orang yang menjadikan peribadatan kita kepada Allah itu sebagai wasilah perantara untuk memperoleh pahala atau untuk menghindari siksa. Jadi Allah itu disembah, bukan karena Dia. Tapi karena pahala-Nya. Kita musyrik, karena kita menjadikan Allah alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan kita sendiri. Dalam Syarah 40 Hadis. Imam Khomeini bercerita tentang ini dengan sangat bagus. Ia menyindir kita semua. Kita semua adalah orang-orang musyrikin. Karena itu dalam Al-Quran disebutkan, sedikit sekali di antara hamba-hamba yang tidak musyrik Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, kecuali dalam keadaan musyrik Yusuf 106. Hampir semua kita, itu musyrik. Mengapa? Karena ketika kita menyembah Tuhan, pusat perhatian kita hanya pahala dan sering membimbing jamaah haji. Saya selalu menemukan pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan pahala. Ketika saya mengajak ibu-ibu berziarah ke masjid Quba, pertanyaannya adalah pahalanya. Sebagai mubalig, saya mengumpulkan hadis-hadis tentang pahala dan itulah yang kita sampaikan untuk mendorong mereka beramal. Misalnya, barang siapa yang shalat di masjid Nabawi 40 kali akan begini dan begitu. Shalat di Masjidil Haram sama nilainya dengan seratus ribu shalat di masjid-masjid yang lain. Rata-rata kita hafal dengan pahala ini. Karena ia menjadi pusat perhatian kita. Jadi kita beribadah kepada Allah bukan karena kecintaan kita kepada Dia. Bukan karena rindu untuk liqâ kepada Dia. Tapi karena kita mengharapkan hadiah, pahala atau menyembah Allah seperti pembantu melayani kita di rumah. Di rumah pembantu itu melayani kita bukan karena mereka mencintai kita. Bahkan boleh jadi mereka menyimpan kebencian di hatinya. Tapi mereka memenuhi perintah kita karena menunggu upah di ujung bulan. Seperti itulah kita menyembah Allah Swt. Kita berkhidmat karena menunggu upah di hari akhir. Bahkan kita menjalankan perintah Tuhan lebih buruk dari pembantu menjalankan perintah kita. Karena kita seringkali menuntut upahnya dengan segera. Kita rajin betul shalat malam karena kita berharap Tuhan menyelamatkan kita dari kebangkrutan ekonomi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Atau kita rajin bersedekah untuk menolak bencana. Ibadat kita adalah investasi yang kita harapkan "quick yielding", menyerahkan hasilnya dengan cepat dengan ROI yang tinggi. JR***KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari Untuk Pencerahan Pemikiran Islam dan Sekolah Para Juara SD Cerdas Muthahhari SMP Plus Muthahhari SMP Bahtera dan SMA Plus Muthahhari
DALAM BEBERAPA ayat Alquran yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqâ’ Allah berjumpa dengan Tuhan atau liqâ’ al-rabb berjumpa dengan Rabb. Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufasir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu. Sebagian dari mufasir berpendapat bahwa maksud dari liqâ’ Allah adalah pertemuan para malaikat Allah SWT pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan hisâb, ganjaran jazâ’, dan pahala tsawâb. Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya. Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi Al-Quran tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan dzahir sebuah ungkapan eksplisit, sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan. Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan liqâ’ bukanlah melihat Tuhan, karena perjumpaan indrawi hissi hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala. Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah syuhûd batini, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah SWT, karena di Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian tampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah SWT melalui mata batin mereka meskipun perjumpaan ini pasti berbeda. Allamah Thabathaba’i dalam tafsir Al-Mîzân mengtaakan, “Hamba-hamba Allah SWT berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya, karena ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surah Al-Nur 24 25, Allah SWT berfirman, Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Hak Yang Nyata.’”Al-Mîzân, jld. 15, hlm. 103; jld. 10, hlm. 69. Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali dan berkata “Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Alquran.” Beliau bertanya, “Mengapa?” Orang itu berkata, “Kita melihat banyak ayat Al-Quran yang menegaskan perjumpaan dengan Allah SWT di Hari Kiamat, dan di sisi lain, Dia berfirman, Mata-mata tidak mampu menjangkaunya, dan Ia menjangkau seluruh mata.’ Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?” Imam Ali menjawab, “Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan di Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh liqa’ perjumpaan yang disebutkan dalam Alquran berarti kebangkitan.” Syaikh Shaduq, Al-Tauhid, hlm. 267. Sebenarnya, Imam Ali memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah SWT bahwa penyaksian syuhûd atas Allah SWT merupakan inherensi-inherensi dari syuhûd tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan tajalli penampakan Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhûd batini penyaksian batin para kekasih Allah SWT di Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa Tafsir Payâm-e Qur’ân, jld. 5, hlm. 44. Dalam masalah ini, Fakhru Razi dalam Al-Tafsir Al-Kabîr memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, “Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt.” Al-Tafsir al-Kabîr, ayat terkait; Tafsir Nemûnehh, jld. 17, hlm. 359. Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa tahdzib al-nafs dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahj Al-Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali, Dza’lab Al-Yamani, bertanya kepada beliau, “Apakah kamu melihat Tuhanmu?” Imam menjawab, “Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?!” Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan “Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.” Nahj Al-Balaghah, pidato 179. Namun, penyaksian batin di Hari Kiamat berlaku untuk semua orang, karena tanda keagungan dan kekuasaan Allah SWT di hari itu sedemikian jelas sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh Tafsir Nemûneh, jld. 1, hlm. 217. Visited 719 times, 1 visits today Post Views 912
25 Ayat Al-Quran Tentang Allah - Allah Azza Wa Jalla sering kali menyebut diri-Nya sendiri di dalam kitab-Nya Al-Quran. Allah sering menyatakan diri-Nya Maha Perkasa, Maha segala-galanya, Maha Luar Biasa, Maha Kuasa, dengan segala kesombongan dan kebesaran-Nya. Dialah Dzat yang paling pantas menyombongkan diri. Maka dari itulah kita dilarang berbuat sombong karena berusaha menandingi Allah Ta’ala dalam sifat-Nya. Dan Tuhanmu berfirman "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." Al-Mu’min 60 Baca Juga 23 Ayat Al-Quran Tentang Pahala Atas dasar itulah kami tertarik untuk membawakan tulisan mengenai ayat-ayat Al-Quran yang menyebutkan Allah Tabaraka Wa Ta’ala. 1 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Al-Faatihah 1 2 Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya mesjid Allah, kecuali dengan rasa takut kepada Allah. Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. Al-Baqarah 114 3 Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu masa Jahiliyah bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Ali Imran 103 4 Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Karena bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. An-Nisaa’ 32 5 Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam", padahal Al-Masih sendiri berkata "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Al-Maa’idah 72 6 Katakanlah "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah "Allah." Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran kepadanya. Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah "Aku tidak mengakui." Katakanlah "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan Allah." Al-An’aam 19 7 Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Al-A’raaf 86 8 Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Katakanlah "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman." Al-Anfaal 1 9 Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata "Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian pula Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka. At-Taubah 59 10 Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah." Katakanlah "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak pula dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan itu. Yunus 18 11 Dan aku tidak mengatakan kepada kamu bahwa "Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak pula aku mengatakan "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka." Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim. Huud 31 12 Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Yusuf 40 13 Katakanlah "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya "Allah." Katakanlah "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan bagi diri mereka sendiri?." Katakanlah "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." Ar-Ra’d 16 14 Dan berkatalah syaitan tatkala perkara hisab telah diselesaikan "Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku dengan Allah sejak dahulu." Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih. Ibrahim 22 15 dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina." Al-Hijr 69 16 Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. An-Nahl 70 17 Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Al-Israa’ 1 18 Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab Al-Quran dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; Al-Kahf 1 19 Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maryam 58 20 Dialah Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna nama-nama yang baik, Thaahaa 8 21 Ah celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? Al-Anbiyaa’ 67 22 Ia menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat kepadanya. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh. Al-Hajj 12 23 Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Al-Mu’minuun 14 24 Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar. An-Nuur 20 25 Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat pembalasan dosanya, Al-Furqaan 68 Itulah pembahasan kita mengenai ayat-ayat Al-Quran tentang Allah. Sebenarnya hampir seluruh surah di Al-Quran menyebutkan Allah Ta’ala kecuali beberapa saja. Kami hanya mengambil beberapa saja di antara yang sangat banyak. Semoga ayat-ayat di atas menjadi renungan bagi kita akan besarnya kekuasaan dan keagungan Allah Tabaraka Wa Ta’ala. Baca Juga Benarkah Salafi-Wahabi Sesat? Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 26 Shafar 1439 Hijriyah/15 November 2017 Masehi.
ayat tentang berjumpa dengan allah